Woensdag 17 April 2013

pendidikan spiritual usia dini


PENDIDIKAN SPIRITUAL USIA DINI

MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 2
Dosen pengampu: Drs.H.Muchtar Hadi, M.Ag



DISUSUN OLEH
     CHURUN AINUN ZAHRO                        (11.31.0003)


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DARUL ULUM ISLAMIC CENTRE SUDIRMAN GUPPI
(UNDARIS)
2012
Daftar isi
Halaman utama
Daftar isi
Abstrak
Bab.1 pendahuluan
  1. Latar belakang
  2. Tujuan
  3. Rumusan masalah
Bab.2 isi
  1. Pendidikan anak dimulai sejak usia dini,
  2. Tujuan pendidikan anak
  3. Pendidikan agama pada anak
  4. Klasifikasi pendidikan agama
  5. Metode dalam mengenalkan pendidikan agama pada anak
  6. pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini.
Bab.3 penutup
  1. Kesimpulan
  2. Saran
Daftar pustaka                                                   






ABSTRAK

Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dahulu. Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama. Anak wajib dididik agar kelak menjadi anak yang shalih atau shalihah. Pendidikan yang paling utama untuk diberikan kepada sang anak adalah pendidikan agama, karena agama inilah yang akan membimbingnya untuk senantiasa berada didalam jalan kebaikan. agama lebih dari itu, yaitu agama mengatur keseluruhan tingkah laku manusia demi memperoleh ridla Allah. Agama yaitu meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah), atas dasar percaya atau iman kepada Alllah dan bertanggung jawab secara pribadi di Hari Kemudian (Kiamat). Pendidikan agama sesungguhnya adalah pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Dan tidak benar jika dibatasi hanya kepada pengertian-pengertiannya konvensional dalam masyarakat. Karena itu peran orang tua dalam mendidik anak melalui pendidikan keagamaan yang benar adalah amat penting. Oleh Karena itu pendidikan agama keagamaan dalam keluarga tidak hanya melibatkan orang tua saja, akan tetapi seluruh keluarga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar dalam keluarga. Peran orang tua tidak hanya barupa pengajaran, tetapi juga berupa peran tingkah laku, ketauladanan dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan menyeluruh. Dapat dikatakan bahwa pendidikan agama berkisar antara dua dimensi hidup, yaitu: rasa taqwa kepada Allah dan rasa kemanusian kepada sesama.
Pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1)    Terbentuknya kepribadian muslim yang unggul secara intelektual, anggun secara moral, dan terampil dalam beramal, agar ia kelak mampu hidup dalam suasana persaingan hidup yang semakin kompetitif tanpa kehilangan identitas dan jati dirinya sebagai seorang muslim
2)    Dapat memberikan perencanaan yang jelas perihal masa depan mereka
3)    Dapat menyelamatkan anak dari keruntuhan moral




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Anak adalah amanah Allah swt, yang diberikan kepada orangtua, masyarakat dan bangsa. Nasib dan masa depan bangsa di kemudian hari, ditentukan oleh kondisi anak bangsa hari ini. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, yaitu generasi yang kuat imannya, mantap ilmunya, baik amalnya, dan mulia akhlaknya.
Pendidikan Agama yang sumbernya pada nilai-nilai Qur’an semakin terasa diperlukan oleh anak-anak, untuk mempersiapkan masa depannya yang lebih maju, kompleks, canggih dan penuh tantangan. Hal ini disebabkan kecenderungan masa depan yang kompleks dalam memecahkan masalah yang cenderung secara rasional yang berdampak pada pengabaian nilai-nilai moral demi    kemanfaatan    sesaat.
Pendidikan anak perlu bermuara terhadap pengagungan nama Allah SWT, sehingga pendidikan apapun yang diterima menjadi penopang ketauhidannya. Al Qur’an sebagai petunjuk hidup umat islam, telah menginformasikan seperti dalam surat Shad ayat 29ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan atay-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang    mempunyai    pikiran”.
Menanamkan etos Islam dapat diupayakan jika lingkungan anak juga Islami. Dalam suasana demikian, transfer nilai dapat berjalan dengan mulus, karena orang tua dapat menjalankan fungsinya sebagai agen masyarakat. Upaya menanamkan etos Islam lebih berhasil jika dimulai sejak dini.
Pendidikan anak harus dimulai sejak dini. Hal ini dikarenakan pada usia dinilah kemampuan belajar anak cukup tinggi. Usia 3-5 tahun termasuk masa yang amat menentukan perkembangan kepribadian anak. Pada usia balita anak masih banyak bertindak daripada berfikir, menjajaki, mencari tahu, menciptakan, dan sebagainya. Pada usia awal anak, pendidikan tingkah laku lebih penting dibanding ilmu. Islam mengajarkan ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun, disitulah penanaman nilai-nilai baik. Dari segi ilmu kedokteran, usia 0-12 tahun adalah saat penting dalam perkembangan    otak anak. Untuk itu kami membuat makalah yang berjudul “pendidikan spiritual anak
B.     Tujuan

Tujuan utama dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan agama islam 2 di universitas darul ulum Islamic centre sudirman GUPPI (UNDARIS) ungaran yang diampu oleh Drs.H.Muchtar Hadi, M.Ag.serta memberi wawasan bagi para pembaca.


C.     Rumusan masalah

yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah:     
1.      Pendidikan anak dimulai sejak usia dini,
2.      Tujuan pendidikan anak,
3.      Pendidikan agama pada anak,
4.      klasifikasi pendidikan agama,
5.      metode dalam mengenalkan pendidikan agama pada anak,
6.      pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini.


BAB II
ISI
A.    PENDIDIKAN ANAK DIMULAI SEJAK USIA DINI
Sejak dalam rahim ibu pendidikan pada anak secara tidak langsung sudah bisa dijalankan. Dalam tiga bulan pertama kehidupan anak, kata psikolog Ieda Peornomo Sigit Sidi, rangsangan yang diterima oleh anak sangat besar pengaruhnya pada perkembangan berikutnya. Untuk itu orang tua terutama ibu sebaiknya mengaktifkan komunikasi dengan anak sejak dalam rahim. Sejak memasuki bulan keenam dan ketujuh masa kehamilan, bayi mulai mendengar tegur sapa kedua orang tuanya. Bayi sudah mulai bisa mendengar suara-suara, seperti detak jantung ibu, suara dari usus, paru-paru dan sebagainya. Semua itu dirasakan atau didengarkan melalui getaran pada ketuban yang ada di dalam rahim. Kemampuan inilah yang membuat bayi menjadi tenang ketika ibunya menepuk-nepuk perutnya sambil membisik-bisikan kata-kata manis. Dan kemampuan inilah yang menggoreskan memori di otak anak. Karena itu sebaiknya orang tua membiasakan bayinya mendengar suara-suara yang enak (baik) seperti alunan ayat-ayat Al-Qur’an, atau kata-kata yang lembut dari ibunya.
Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dahulu. Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama misalnya ibu bapaknya orang yang mengenal agama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup menjalankan agama, ditambah pula dengan pendidikan agama secara disengaja di rumah, sekolah dan masyarakat. Maka anak-anak itu akan dengan sendiriya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama dan dapat merasakan nikmatnya hidup beragama.
Pendidikan karakter harus dimulai dari dini. Pembentukan karakter dimulai dari pembiasaan (riyadah) khususnya sentuhan nilai-nilai spiritual dan budaya lokal."Pemerintah mencanangkan pendidikan karakter sejak tahun lalu dan sekarang digencarkan dari PAUD bahkan sampai perguruan tinggi," kata Direktur Pelatihan Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Ride Institute, Aep mengatakan, pendidikan karakter seperti kejujuran, menghargai teman dan guru, dan merawat lingkungan. "Kunci pendidikan karakter dari mengetahui karakter anak-anak didik sejak dini. Kecenderungan perilaku anak seperti apa dan keinginan, bakat, serta minat yang harus diketahui oleh guru," katanya.
  1. TUJUAN PENDIDIKAN ANAK
Anak wajib dididik agar kelak menjadi anak yang shalih atau shalihah. Inilah harapan tertinggi orang tua untuk anaknya yang terekam dalam al-Qur’an, yang merupakan do’a Nabi Zakaria (Ali Imran 38). Anak yang shalih adalah anak yang memiliki kepribadian Islam. Dengan dasar aqidah yang kuat, kepribadian Islam anak akan tercermin dari perilakunya dan cara berfikirnya. Perilakunya didasarkan pada aturan Islam sebagai tolok ukur perbuatannya (miqyasu al-’amal). Dan ajaran Islam dijadikannya sebagai landasan ia berfikir (qoidah fikriyah). Beberapa ciri anak yang shaleh tergambar dalam beberapa ayat dari surah Luqmah (13 – 19). Diantaranya beraqidah lurus (tidak musyrik), birru al-walidayn, taat beribadah, mau berdakwah dan berakhlaq mulia.
Oleh karena itu, pendidikan anak harus dapat menanamkan aqidah Islam secara benar. Juga pemahaman terhadap semua aspek ajaran Islam, baik itu menyangkut masalah ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian, juga masalah dakwah dan muamalah.Dengan keshalihannya itulah ia akan dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan cara yang Islami. Bila ia kelak menjadi orang yang cantik atau gagah, pandai, kaya dan memiliki jabatan yang tinggi, maka keshalihan itu akan membimbingnya sedemikian, sehingga semua karunia Allah itu makin meningkatkan keIslaman dia, bukan sebaliknya. Begitu juga bila ia, misalnya kelak hidup dalam kekurangan, berparas kurang bagus, akalnya sedikit lemah, keshalihannya juga akan menjaga dirinya. Ia tidak kemudian frustasi atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Tegasnya, keshalihan itulah yang mampu menjamin anak hidup secara benar sesuai ajaran Islam
.
Pendidikan yang paling utama untuk diberikan kepada sang anak adalah pendidikan agama, karena agama inilah yang akan membimbingnya untuk senantiasa berada didalam jalan kebaikan. Dan dengan dia mengetahui tentang agamanya, maka dia akan mengetaui tentang tujuan dia hidup di dunia ini. Allah subhanahu wata'ala berfirman (yang artinya) : dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu (Ad dzariyat : 56)
Maka dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwasanya yang paling penting adalah seorang anak itu mengetahui tentang Allah subhanahu wata'ala dan juga syariat-syariatNya, agar dia bisa menunaikan ibadah yang benar kepada Allah subhanahu wata'ala.
Oleh karena itu, hendaknya pendidikan yang pertama kali diberikan kepada sang anak adalah mendidiknya untuk mengenal tentang aqidah yang benar, karena aqidah ini merupakan pondasi bagi amalan-amalan yang akan dikerjakannya. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, beliau pernah berkata kepada Ibnu Abbas (yang artinya) : sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah (yakni jagalah syariat-syariat Allah) niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan dapati Allah ada dihadapanmu (yakni Allah akan menunjukimu pada seluruh kebaikan), apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwasanya kalau seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu maka niscaya mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang Allah subhanahu wata'ala telah tuliskan untukmu, dan kalau seandainya mereka bersatu untuk memberikan bahaya kepadamu niscaya mereka tidak akan mampu untuk memberikannya kecuali dengan sesuatu yang Allah subhanahu wata'ala telah tuliskan atasmu, pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering (yakni seluruhnya telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata'ala). (HR. At tirmidzi dari Ibnu Abbas)
Dalam hadits yang mulia ini terkandung banyak sekali faidah, diantaranya :
pentingnya mengajari anak tentang aqidah yang benar sebagaimana Rosulullah subhanahu wata'ala mengajarkannya kepada ibnu abbas
bagusnya pendidikan Rosulullah subhanahu wata'ala dan beliau merupakan suri tauladan yang terbaik bagi umatnya
pentingnya mengenal Allah subhanahu wata'ala, karena dengan mengenal Allah subhanahu wata'ala maka Allah subhanahu wata'ala akan menjaganya
menetapkan adanya taqdir yang Allah subhanahu wata'ala telah tetapkan untuk makhluk-makhlukNya
tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan madhorot kecuali Allah subhanahu wata'ala
Kemudian, diantara hal yang penting untuk diberikan kepada sang anak semenjak dia masih kecil adalah mengajarinya Al quran. Banyak sekali keutamaan yang bisa diraih dengan seorang itu mempelajari Al quran. Oleh karena itu, hendaklah para orang tua mendidik agar sang anak senang dengan Al quran. Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al quran dan yang mengajarkannya. (HR. Al bukhori dari Utsman bin Affan)
Bimbinglah sang anak agar dia selalu membaca Al quran setiap harinya walaupun mungkin hanya sedikit yang dia baca. Karena membaca Al quran itu pahalanya sangatlah banyak. Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya) : barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al quran) maka dia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya, aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan miim satu huruf. (HR. At tirmidzi dari Abdullah bin Mas'ud).
  1. PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK
Makna agama sendiri bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti sholat dan membaca do’a saja. Akan tetapi agama lebih dari itu, yaitu agama mengatur keseluruhan tingkah laku manusia demi memperoleh ridla Allah. Agama dengan kata lain, agama meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah), atas dasar percaya atau iman kepada Alllah dan bertanggung jawab secara pribadi di Hari Kemudian (Kiamat). Hal tersebut di atas menyatakan bahwa shalat kita, darma bakti kita, hidup kita, mati kita dan semua adalah untuk atau milik Allah seru sekalian alam.
Pendidikan agama sesungguhnya adalah pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Dan tidak benar jika dibatasi hanya kepada pengertian-pengertiannya konvensional dalam masyarakat. Karena itu peran orang tua dalam mendidik anak melalui pendidikan keagamaan yang benar adalah amat penting. Oleh Karena itu pendidikan agama keagamaan dalam keluarga tidak hanya melibatkan orang tua saja, akan tetapi seluruh keluarga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar dalam keluarga. Peran orang tua tidak hanya barupa pengajaran, tetapi juga berupa peran tingkah laku, ketauladanan dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan menyeluruh. Seperti pepatah mengatakan bahwa pendidikan dengan bahasa perbuatan (perilaku) untuk anak adalah lebih efektif dan lebih mantap dari pada pendidikan dengan bahasa ucapan. Karena itu yang penting adalah adanya penghayatan kehidupan keagamaan dalam suasana keluarga.
Perkembangan spiritualitas pada anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat lingkungan. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama atau spiritualitas akan semakin banyak unsur agama, maka sikap, tindakan, kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antar keluarga, sekolah, dan masyarakat, bahkan menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia. Karena dengan adanya pendidikan maka seseorang itu akan mempunyai pengetahuan tentang suatu wawasan pendidikan.
Dan awal pendidikan itu di mulai sejak anak usia dini atau sejak lahir karena pendidikan usia dini pada dasarnya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan sang anak. Oleh karena itu, peran pendidik sangatlah penting. Dan pendidik harus mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam.
Berdasarkan UUSPN ( Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ) pengertian pendidikan anak usia dini adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. ( UUSPN, 2003 : 4 ).
Memang dengan demikian bahwa pendidikan anak itu merupakan modal terbesar yang dimiliki bangsa untuk mewujudkan cita - cita bangsa kelak. Berhasil atau tidaknya langkah yang sudah kita rintis ini sangat bergantung pada generasi penerus kita nanti.
Oleh karena itu kita seharusnya sedapat mungkin mengupayakan agar si penerus ini tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, sehingga mereka kelak akan mampu mewujudkan apa yang diinginkan bangsa dengan tepat bahkan lebih dari apa yang kita harapkan, dan karena itulah anak sejak kecil sudah harus diberikan pendidikan ( Iwan, 2001 : 1 ).
Pengertian pendidikan anak usia dini menurut Hj. Maryam Halim, adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. ( Halim, 2005 : 123 ).
Kemudian berdasarkan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya pendidikan di mulai sejak anak usia dini yang terbagi ke dalam 4 tahapan yaitu”
1) Masa bayi usia 0 - 12 bulan.
2) Masa toddler ( balita ) usia 1 - 3 tahun.
3) Masa Pra Sekolah usia 3 - 4 tahun.
4) Masa kelas awal SD usia 6 - 8 tahun”. ( Sopenaryo, 2004 : 6 ).
Dan di Taman Kanak-kanak ( TK ) diberikan pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak usia dini. Karena pendidikan agama Islam merupakan segala usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak setelah pendidikannya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya serta menjadikannya sebagai way of life ( jalan kehidupan ) sehari - hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial kemasyarakatan.
Memang pada dasarnya pendidikan agama Islam ditanamkan bagi anak-anak sejak usia kecil atau usia dini sampai ketika besar nanti agar anak tersebut dapat mengetahui tentang ajaran - ajaran Islam.
Karena itulah di tengah zaman globalisasi ini di mana informasi - informasi negatif dari barat yang mempengaruhi anak - anak yang hendak menjauhkan kita dari Islam tiada henti-hentinya membanjiri anak - anak TK, karena itu untuk mengajak generasi Islami anak usia dini diarahkan anak - anak kita menjadi generasi yang sholeh yang akan mengembalikan kejayaan Islam dan yang akan menolong kedua orang tuanya. ketika sudah meninggal dunia.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasullulah SAW yang berbunyi:

وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.aw. bersabda:“Apabila anak Adam (manusia) itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara yaitu: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholeh yang mendo’akannya”. ( HR.Muslim ) dalam ( Shabir, 1992 : 281).

Atas dasar inilah Taman Kanak - Kanak dikembangkan dengan maksud untuk merebut fitrah anak sebelum dikotori oleh informasi-informasi negatif dari barat yang hendak menjauhkannya dari Islam. Sebab informasi - informasi dari barat itu dapat sedikit demi sedikit mempengaruhi anak usia dini khususnya di TK, sebagai contoh film - film dari budaya barat yang tidak pantas dilihat anak kecil, memang pada kenyataannya memang banyaknya film - film dari barat yang terdapat di televisi di zaman sekarang ini. Karena itulah sebagai orang tua dapat memberikan bimbingan dan mendampinginnya bagi anak - anaknya ketika menonton televisi dan bagi guru dapat memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak usia dini dengan ajaran - ajaran yang bernuansa Islami agar anak usia dini dapat mengetahui ajaran Islam secara baik dan benar.
  1. KLASIFIKASI PENDIDIKAN AGAMA
Dapat dikatakan bahwa pendidikan agama berkisar antara dua dimensi hidup, yaitu: :
1)        Penanaman rasa taqwa kepada Allah sebagai dimensi hidup yang dimulai dengan pelaksanaan kewajiban-kewajiban formal agama yang berupa ibadah-ibadah. Sedangkan pelaksanaannya harus disertai dengan penghayatan yang sedalam-dalamnya akan makna ibadah-ibadah tersebut, sehingga ibadah-ibadah itu tidak dikerjakan semata-mata sebagai ritual belaka, melainkan dengan keinsyafan mendalam akan fungsi edukatifnya bagi kita semua.
Rasa taqwa kepada Allah itu kemudian dapat dikembangkan dengan menghayati keagungan dan kebesaran Allah lewat perhatian kepada alam semesta beserta segala isinya, dan kepada lingkungan sekitar. Sebab menurut al-Qur’an hanya mereka yang memahami alam sekitar dan menghayati hikmah dan kebesaran yang terkandung di dalamnya sebagai ciptaan Ilahi yang dapat dengan benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga bertaqwa kepada-Nya. Melalui hasil perhatian, pengamatan, dan penelitian kita terhadap gejala alam dan social kemanusiaan tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan yang bersifat kognitif belaka, juga tidak hanya yang bersifat aplikatif dan penggunaan praktis semata (penggunaan teknologi), tetapi dapat membawa kita kepada keinsyafan Ketuhanan yang mendalam, melalui penghayatan keagungan Tuhan sebagaimana tercermin dalam seluruh ciptaannya.
Keinsyafan merupakan unsur yang sangat penting dalam menumbuhkan rasa taqwa, maka pendidikan keagamaan dalam keluarga harus pula meliputi hal-hal yang diperintahkan Allah dalam al-Qur’an (sesuai dengan ajaran-Nya). Wujud nyata atau substansi jiwa Ketuhanan itu terdapat dalam nilai-nilai keagamaan pribadi yang amat penting yang harus ditanamkan kepada anak-anak.
Kegiatan menanamkan nilai-nilai itulah yang sesungguhnya akan menjadi inti pendidikan keagamaan. Diantara nilai-nilai itu yang sangat mendasar adalah:
•    Iman
Sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah.
•    Islam
Sikap pasrah kepada-Nya dengan menyakini bahwa papun yang datang dari Allah tentunya membawa hikmah kebaikan, yang kita tidak mungkin mengetahui seluruh wujudnya.
•    Ihsan
Kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir atau berada bersama kita dimana pun kita berada.
•    Taqwa
Sikap yang sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berbuat hanya sesuatu yang diridlai Allah dengan menjauhi dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak diridlai Allah.
•    Ikhlash
Sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata-mata demi memperoleh ridla Allah dan dan bebas dari pamrih lahir dan batin tersembunyi maupun terbuka.
•    Tawakkal
Sikap senantiasa bersandarkan diri kepada Allah dengan penuh harapan dan dengan keyakinan kita pula bahwa Allah akan menolong kita dalam mencari dan menemukan jalan yang terbaik bagi kita.
•    Syukur
Sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan atas nikmat dan karunia yang tidak terbilang banyaknya yang dianugrahkan Allah kepada kita.
•    Sabar
Sikap tabah mengahadapi segala kepahitan hidup, besar atau kecil, lahir atau batin, karena keyakinan yang tidak tergoyahkan bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

2)        Dimensi hidup manusia yang lain adalah mengembangkan rasa kemanusian kepada sesama. Keberhasilan pendidikan agama bagi anak-anak tidak cukup diukur hanya dari segi seberapa jauh anak itu menguasai hal-hal yang bersifat kognitif atau pengetahuan tentang ajaran agama (ritual-ritual). Justru yang lebih penting adalah sejauhmana nilai-nilai keagamaan itu dalam jiwa anak-anak diwujudkan dalam tingkah laku dan budi pekerti sehari-hari, sehingga dapat melahirkan budi luhur (akhlakul karimah).
Sekedar untuk pegangan operatif dalam menjalankan pendidikan keagamaan kepada anak, mungkin nilai-nilai akhlak berikut ini dapat dipertimbangkan oleh semua orang tua untuk ditanamkan kepada anak-anak, yaitu:
•    Silaturrahmi
Pertalian rasa cinta kasih antara sesama manusia, khususnya antara saudar, kerabat, tetangga dan masyarakat.
•    Persaudaraan
Semangat persaudaraan, lebih-lebih antara sesama kaum beriman Ukhuwah Islamiyah).
•    Persamaan
Pandangan bahwa sesama manusia tanpa memandang jenis kelamin, kebangsaan ataupun kesukuannya adalah sama dalam harkat dan martabat.
•    Adil
Wawasan yang seimbang dalam memandang menilai atau menyikapi sesuatu atau seseorang.
•    Berprasangka baik pada yang lainnya
•    Rendah hati
Sikap yang tumbuh karena keinsafan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah, maka tidak sepantasnya manusia mengklaim kemuliaan itu kecuali dengan pikiran yang baik dengan perbuatan yang baik, yang itupun hanya Allah yang menilainya.
•    Tepat    Janji 
Salah satu sifat orang yang benar-benar beriman adalah sikap selalu menepati janji bila membuat perjanjian.
•    Lapang dada                                                                                                                    
Sikap penuh kesediaan menghargai orang lain dengan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangan.
•    Dapat    dipercaya                                                                                                           
 Salah satu konsekuensi iman adalah amanah atau penampilan diri yang dapat dipercaya.
•    Perwira
Sikap penuh harga diri namun tidak sombong dan tidak mudah menunjukkan sikap memelas atau iba dengan maksud mengundang belas kasihan orang lain dan mengharapkan pertolongannya.
•    Hemat
Sikap tidak boros dan tidak pula kikir dalam menggunakan harta, melainkan sedang antara keduanya.
•    Dermawan
Sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang besar untuk menolong sesama manusia terutama mereka yang kurang beruntung dan terbelenggu oleh perbudakan dan kesulitan hidup lainnya dengan mendermakan sebagian harta benda yang dikaruniakan Allah kepada mereka.
Dan masih banyak lagi nilai-nilai keagamaan pribadi yang diajarkan dalam islam. Orang tua atau pendidik dapat mengembangkan nilai-nilai keagamaan lainnya sesuai dengan perkembangan anak dan keadaan.
E.     METODE-METODE DALAM MENGENALKAN PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK
1.      Memberikan Contoh Keteladanan.
Supaya anak bisa membaca Al-Quran orang tua atau keluarga memberikan contoh dengan rutin baca Al-Qur’an. Supaya anak selalu menjaga kebersihan, orang tua atau keluarga membiasakan menaruh dan membuang sampah pada tempatnya. Dan contoh-contoh lainnya
2.        Menerapkan pertahapan dan pembiasaan
Sebagai implikasi dari pandangan Al-Quran tentang proses pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia, Al-Quran dalam petunjuk-petunjuknya menjadikan pentahapan dan pembiasaan sebagai salah satu ciri sekaligus metode guna mencapai sasaran.
Menggunakan alat peraga untuk menyampaikan pendidikan agama, agar menyatu dengan kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Mengusahakan suatu lingkungan yang kaya akan rangsangan, yaitu dengan menyediakan aneka ragam bahan dan sarana prasarana yang dapat merangsang semua alat indranya: penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dll. Anak belajar mengenal lingkungan melalui indranya (visual, auditorial dan kinestetikal).
3.      Menerapkan Watak Positif
Bisa dilakukan dengan:
a).    Fleksibilitas, kemampuan untuk melihat adanya alternatif-alternatif pemecahan masalah, keterbukaan: Suasana keterbukaan menghasilkan sikap demokrasi dan terbuka.
b). Ketegasan, era globalisasi menghadapkan kita pada banyak pilihan yang menuntut kita untuk bertindak tegas (bukan kasar). Ketegasan perlu dibatasi oleh etika dan prinsip agama.
c). Percaya diri untuk berinisiatif, kompetisi merupakan ciri globalisasi, menuntut kita memiliki percaya untuk berinisiatif, toleransi kepada ketidakpastian yaitu sesuatu selalu berubah dan hanya Allah yang konstan, kemandirian, berencana, disiplin, berani ambil resiko, dll.
4.      Pendidikan    dengan    nasihat
Nasihat merupakan salah satu pilar dalam pendidikan Islam. Rasulullah bersabda: “Agama itu nasihat. Kami bertanya: “Untuk siapa?” Jawab Nabi: “Bagi Allah, dan KitabNya, dan RasulNya, dan pemimpin-pemimpin, serta kaum muslimin pada umumnya”. (HR. Muslim).
Sering terjadi, sekalipun orang tua telah mengajarkan hal-hal yang baik, tetapi anak tetap melakukan kesalahan. Selayaknya orang tua harus
menyikapi dengan arif. Nasihat yang baik akan lebih mengena di hati anak dari pada kemarahan disertai caci maki dan pukulan. Dalam memberi nasihatpun harus dilakukan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang untuk mengasah kepekaan anak. Pendidikan dengan Perhatian
Merupakan kewajiban orang tua untuk mencurahkan perhatian pada anak-
anaknya dengan mengamati perkembangannya dan memberikan kasih sayang. Anak yang senantiasa diperhatikan akan merasa aman, hidup penuh rasa cinta, optimis dan memandang positif pada lingkungannya. Sebaliknya, jika kurang mendapat perhatian atau bahkan terlantar, anak akan tumbuh dalam rasa terabaikan. Ia akan memandang negatif dan acuh tak acuh pada lingkungannya. Jika pada tahap awal anak telah kehilangan tali kasih dengan orang tuanya, maka pada tahap selanjutnya akan sulit menyayangi orang lain.
5.      Pendidikan dengan Memberikan Hukuman dan Penghargaan
Hukuman kadang diperlukan dalam pendidikan. Hukuman merupakan sangsi fisik atau psikis yang hanya boleh diberikan ketika anak melakukan kesalahan dengan sengaja. Rasulullah memerintahkan kepada orang tua memukul anaknya ketika telah berumur 10 tahun masih juga lalai shalat. Tentu saja dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Hukuman yang diberikan haruslah proporsional (sesuai) dengan kesalahan anak. Berat ringannya hukuman disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan, dan disesuaikan pula dengan kemampuan anak melaksanakan hukuman tersebut. Menghukum anak yang memecahkan gelas misalnya, harus berbeda dengan anak yang melailaikan shalat. Artinya, pelanggaran syar’i harus mendapat porsi hukuman khusus (lebih berat misalnya) dibandingkan kesalahan teknis yang tidak terlalu penting. Hikmah dari pendidikan melalui hukuman ini diantaranya adalah untuk melatih disiplin dan mengenalkan anak pada konsep balasan setiap amal perbuatan. Jika anak terlatih sejak kecil untuk berhati-hati dengan larangan dan sungguh-sungguhmelaksanakan kewajiban, maka akan memudahkan baginya untuk berbuat seperti itu ketika ia dewasa. Tampaklah bahwa hukuman pun bermanfaat untuk melatih dan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Penghargaan diberikan pada anak jika mencapai hasil yang baik. Fungsinya untuk mendidik dan memotivasi anak untuk mengulangi tingkah laku yang baik itu. Penghargaan dapat berupa pujian, bingkisan, pengakuan atau perlakuan istimewa.
F.      PENGENALAN PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK USIA DINI
Pengenalan pendidikan agama pada anak sejak usia dini memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1)    Terbentuknya kepribadian muslim yang unggul secara intelektual, anggun secara moral, dan terampil dalam beramal, agar ia kelak mampu hidup dalam suasana persaingan hidup yang semakin kompetitif tanpa kehilangan identitas dan jati dirinya sebagai seorang muslim
2)    Dapat memberikan perencanaan yang jelas perihal masa depan mereka
3)    Dapat menyelamatkan anak dari keruntuhan moral
4)    Menanamkan benteng keimanan dan ketaqwaan yang kokoh
serta pedang keilmuan yang tajam., dan
5)    Anak bisa menjadi orang yang nantinya bermanfaat bagi orang lain.


BAB III
PENUTUP
A.        Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan:
(1)    Pertumbuhan jiwa agama atau spiritualitas pada anak telah dimulai sejak lahir dan bekal itulah yang akan dibawanya ketika memasuki pendidikan sekolah untuk pertama kali. Pendidikan agama pada umur ini melalui semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya maupun perlakuan yang dirasakannya.
(2)    Pendidikan agama pada masa ini mulai ditujukan untuk membentuk spiritualitas anak seutuhnya, mulai dari pembinaan sikap dan pribadinya, sampai kepada pembinaan tingkah laku(akhlak) yang sesuai dengan ajaran agama. Contohnya melalui sholat berjama’ah, pergi ke masjid beramai-ramai dan ibadah sosial.
B.        Saran
Untuk membentuk spritualitas pada anak, seharusnya orang tua memberikan contoh keteladanan dengan melakukan tindakan dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama, sehingga menimbulkan pada anak pengalaman-pengalaman hidup yang sesuai dengan agama, yang kemudian akan bertumbuh menjadi unsur-unsur, yang merupakan bagian dalam pribadinya nanti.












DAFTAR PUSTAKA    

Anonim. Pendidikan Untuk Membentuk Anak Sholeh. www.geocities.com. 22 Januari 2008.

Asfandiyar, Andi Yudha. Pendidikan Qur’ani-Senantiasa Berpihak pada Anak.
www.keyanaku.blogspot.com. 9 Desember 2007.

Daradjat, Zakiah. 1990. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Bulan Bintang.

Herry, Musleh. Kenalkan Agama Sejak Dini pada Anak. www.pesantren.or.id. 5 Mei 2008.

Mudjitahid.2004. Membangun Anak Negeri. Nusa Tenggara Barat : Lembaga Perlindungan Anak
http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=31:tujuan-pendidikan-dalam-islam&catid=8:adnin-armas
http://salafybanyumas.blogspot.com/2012/01/pentingnya-pendidikan-agama-bagi-anak.html
http://m.pikiran-rakyat.com/node/172174

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking